Selasa, 2009 Januari 06

Ketergantungan (Software)

Mungkin di kehidupan kita sehari-hari, kita cukup sering mendengar hal-hal seperti ini:

"Eh, nanti kamu buat aja perhitungannya pake Excel"
"Udah kok, videonya udah semaleman aku render di Premiere"
"Wah, program kaya gitu si gampang banget kalo pake Visual Studio.. sini aku kerjain"
"Editan photoshopmu bagus banget. Bisa buat cari duit tuh"
"Udah pake Corel yang baru belum? Fiturnya tambah lengkap.."
"Persamaan kayak gitu si pake Matlab langsung selesai.."

Dan masih banyak lagi perbincangan yang sering menyebutkan merek atau perusahaan perangkat lunak yang cukup terkemuka.

Tanpa sadar, kehidupan kita sehari-hari menjadi sangat dekat dengan software-software tersebut. Software dapat mempermudah kehidupan kita, mengisi waktu luang kita, menyalurkan hobi kita, atau bahkan menjadi sumber penghasilan kita.

Namun tanpa sadar pula, ketergantungan kita terhadap software-software tersebut menjadi cukup besar. Terpatri di kepala kita, bahwa mengolah foto itu ya menggunakan photoshop, kalau mengetik menggunakan microsoft word, mengedit video menggunakan adobe premiere, dan seterusnya.

Padahal kita semua tahu, bahwa software-software itu tidak gratis. Para kreatornya memiliki hak atas hasil kreasinya. Dan kita juga semua tahu, bahwa tidak semua dari kita membeli hasil kreasi tersebut. Kita lebih mudah mencari jalan pintas: menggunakan produk bajakan.

Toh, hal tersebut tidak lantas membuat diri kita peduli. Kita sudah terbiasa menggunakannya, kita sudah familiar dengannya, dan kita merasa berat untuk melepaskannya.

Ada yang menggunakan alasan: sudah biasa, ini untuk penghidupan, ini tuntutan pekerjaan, dan berbagai macam variannya.

Tapi adakah yang terpikir.. masak ya mau cari makan menggunakan perangkat lunak yang nota bene: tidak diikhlaskan untuk diberikan pada kita?

Sebetulnya lingkaran pemahaman seperti itu sudah menjadi hal yang tak berujung. Dan institusi pendidikan di negara kita juga cukup bertanggungjawab akan pola pikir seperti ini. Seperti yang dialami adik saya saja: di SD sudah diajari menggunakan Microsoft Office, di SMP diajari mengolah gambar menggunakan Corel dan membuat animasi menggunakan Macromedia Flash. Di SMA mulai diajari Adobe Photoshop. Bahkan di perkuliahan pun banyak yang mengajarkan programming menggunakan merek tertentu yang berbayar softwarenya.

Padahal sekolah-sekolah tersebut belum tentu menggunakan yang legal. Dan juga tidak mengajarkan untuk menggunakan yang legal (ya iyalah, orang yang dipake di sekolahnya juga bisa jadi nggak legal..)

"Lho, Mas, itu kan untuk keperluan pendidikan"

Pendidikan macam apa? Apakah pendidikan itu mengajarkan kita harus tergantung pada software tertentu? Apalagi yang membuat kita tergantung pada sesuatu yang di dalamnya terdapat hak orang lain? Ironis sekali.

Bukan berarti saya anti pada Software-Software yang saya sebutkan tadi. Justru saya salut pada kemampuan mereka untuk membuat sesuatu yang membuat hidup kita menjadi mudah. Dan justru sebisa mungkin saya tidak akan merampas hak mereka.

Sebetulnya solusinya terdengar sederhana: Beli saja. Kalau belum mampu, gunakanlah yang open source. Tapi kita sudah terlanjur tergantung pada software yang familiar tadi. Jadi ya lebih baik gunakan yang bajakan saja..

Saya sendiri masih dalam perjuangan untuk mempertahankan idealisme ini.. Untuk terlepas dari ketergantungan terhadap perangkat lunak tertentu.

7 komentar:

yayan mengatakan...

alhamdulillah sedikit demi sedikit sudah mengurangi ketergantungan pada software non-legal... insya Allah di laptop dah legal semua hehehe... meskipun beberapa masih trial 60 hari dan perlu direstore ke sistem awal agar bisa instal software yang sama untuk pemakaian 60 hari kedepan. cho mendokusai kedo, yang penting legal dan halal hehehe

lambrtz mengatakan...

Terima kasih pada Guru Besar Fikri Waskito yang telah mempengaruhi saya untuk menggunakan software/ file legal :)

fikri mengatakan...

@mas yayan
Alhamdulillah.. yo itu perjuangan seumur hidup. Soalnya pasti ada terus godaan untuk menggunakan software non legal..
Lho, walau mendokusai, tapi kan di situ nilai perjuangannya..

@lambrtz
weks, kok aku ki lho. Aku yo masih dalam tahap perjuangan.. selama barang 40 dollarku belum sampai sini dari US (menyusulmu), aku masih belum officially clear.. :p

Safitri Yosita Ratri mengatakan...

iya si if di negara kita.. Kalo di Oz dijamin asli, coz beli laptop BO tanpa instal2, kl pgn bisa pake ya beli software dulu dengan harga lumayan menguras kantong.. Alhamdullilah laptop asus jamu ¨Pegel LINUX¨ ku ini teryata berisi program2 yang satisfying dan teman2 berkata ¨selamat anda terbebas dari dosa..atas penggunaan produk halal¨

fikri mengatakan...

iya mbak.. kalo di negeri sono hal itu diperhatikan dengan baik..

ya, semoga kita juga bisa menuju ke sana ya mbak.

selamaaaat..

tri wiyono mengatakan...

aslm.
pengin juga sih, pake Open source, tp bingung nih file2 exe gmana njalaninnya.
padahal kadang ada file yg dibikin dalam format gitu.

fikri mengatakan...

wa alaikum salam wa rahmatullah.

wah mas tri wiyono.. apa kabar. kalau mau menjalankan file .exe di linux, sebetulnya ada emulatornya. namanya wine. ya perlu agak explore sedikit tapi.

kan sedikit usaha tidak apa-apa.. iya to mas. :)