3 hari yang lalu, saya tiba-tiba mendapat sms undangan untuk melakukan Ifthor Jama'i (atau dalam bahasa kita, buka bersama) dari teman satu asrama saya, Omer.
Suksit Nives, asrama yang saya huni, adalah asrama Internasional milik Chulalongkorn University. Sehingga saya tinggal bersama sekian macam orang dengan berbagai kewarganegaraan. Salah satunya Omer, yang berkewarganegaraan Sudan.
Di asrama ini, ada 4 orang muslim yang tersisa (lainnya sudah pindah). Saya, Pak Dedi, Pak Harry (orang Indonesia), dan Omer itu tadi. Biasanya selama ini saya melakukan buka puasa berkeliling. Entah di masjid, entah di acara buka bersama, di KBRI, dan lain lain. Namun baru kali ini saya mendapat undangan buka bersama di asrama sendiri.
Tadi malam, akhirnya acara tersebut dilaksanakan. Inilah tahap persiapan acara tersebut. Lho, kok ada 6 piring?
Wah, ternyata menunya kesukaan saya, nasi goreng.
Omer mengatakan, bahwa di negaranya, dia terbiasa untuk selalu mengundang orang lain dengan acara seperti ini. Dia juga mengatakan, jika saya ada di negaranya, dia tidak akan membiarkan diri saya untuk berbuka di tempat lain:harus di rumah dia.
Pada saat Adzan berkumandang, ternyata Pak Harry belum juga terlihat. Akhirnya kami pun mulai makan.
Lho, siapa itu. Yang paing kiri itu Omer, sebelahnya Pak Dedi (beliau pengajar di ITB, dan sebentar lagi akan pulang dari sini, karena selesai kuliahnya). Lha yang di sebelah kanan saya? Dia bukan Pak Harry.
Yang unik dari buka bersama ini, ada 2 orang lain yang ternyata melakukan puasa kemarin.
Mereka adalah Yuko dan Satomi, salah dua dari warga negara Jepang yang tinggal di Suksit Nives. Ternyata Omer bercerita pada mereka berdua bahwa kami melakukan puasa (walau yang dapat mereka tangkap, hanya tidak makan dari pagi sampai malam), dan tertarik untuk ikut melakukannya.
Akhirnya, kemarin mereka berhasil melakukannya. Dan kesan pertama yang mereka dapat tentu saja: Lapar dan Haus. Dan juga tidak memiliki tenaga untuk melakukan apapun. Bahkan mereka sempat bertanya: "Lalu apa saja yang kalian lakukan pada saat istirahat siang? Pada saat orang lain keluar untuk makan siang?". Masih seputar makanan.
Selanjutnya setelah kami melakukan sholat Maghrib, mereka pun melanjutkan pertanyaan-pertanyaan seputar Sholat, dan seputar Islam.
Terlihat, Pak Harry sedang menjelaskan mengenai kiblat, menggunakan kompas.
Pengalaman yang menarik, walau hanya melibatkan sedikit orang. Namun bagaimanapun, suasana buka bersama seperti ini sangat berharga saat kita berada di negeri orang.
Kamis, 10 September 2009
Buka Bersama
Rabu, 02 September 2009
Powered by Snow Leopard
Posting ini mirip posting sebelumnya yang berisi tentang kiriman.
Kemarin siang, saat saya pulang ke asrama, saya mendapat paket seperti di bawah ini.
Barang tersebut saya pesan kira-kira 5 hari yang lalu.
Dan setelah saya buka, langsung ada yang menatap wajah saya.
Bagi pengguna Mac OS, info keluarnya sistem operasi baru ini sudah bergaung cukup lama. Dan akhirnya, pada tanggal 28 Agustus kemarin Apple melakukan launching terhadap sistem operasi ini. Sambutan dunia cukup meriah, terbukti dengan angka pemesanan yang begitu besar.
Saya sendiri tadinya tidak terlalu tertarik dengan Operating System (OS) baru ini. Mind-set saya mengenai OS baru, tentu saja OS tersebut akan lebih berat dari versi sebelumnya. Namun ternyata menurut klaim mereka, OS baru ini justru lebih ringan dari versi sebelumnya. Bahkan kapasitas yang diperlukan untuk OS ini juga lebih sedikit (sekitar 7GB) dari versi sebelumnya. Mendengar klaim ini, saya menjadi cukup tertarik. Karena komputer ini banyak saya gunakan untuk keperluan komputasi numeris yang cukup berat, maka sebuah kata "lebih ringan" tentu menjadi isu yang menarik.
Alasan lain yang membuat saya tertarik adalah, untuk melakukan update dari versi sebelumnya (Mac OS 10.5 a.k.a Leopard) cukup membayar 29 dollar US. Harga yang murah untuk sebuah OS.
Sehingga begitu ada notifikasi bahwa saya bisa memesan, saya langsung memesan melalui internet (untuk negara ini, diikutkan ke daerah pemasaran Singapore).
Dan kemarin, akhirnya barang pesanan saya sampai dari Singapore.
Isi kotak tersebut ternyata cukup sederhana. Hanya DVD instalasi, lembaran petunjuk, dan stiker.
Sorenya, saya langsung melakukan instalasi OS tersebut ke komputer saya. Untuk spec komputer saya (MacBook Alumunium 2,4GHz), instalasi berlangsung sekitar 40 menit. Jadi selama 40 menit saya melihat gambar seperti ini:
Setelah instalasi selesai, komputer langsung restart dan masuk ke menu utama. Kesan saya yang pertama, proses booting dari Snow Leopard memang lebih cepat dari versi sebelumnya. Kemudian saya mencoba eksplorasi sejenak, tampilan memang ada sedikit perubahan, terutama untuk Dock dan Expose.
Kemudian saya mencoba menjalankan aplikasi-aplikasi, dan memang cukup terasa signifikan waktu startingnya. OS ini memang lebih ringan. Saya mencoba game Spore (salah satu game favorit saya yang saya beli di sini), dan memang berjalan lebih cepat dan halus.
Kemudian setelah saya amati, kapasitas Hard Disk saya berubah cukup jauh. Ini adalah kondisi sebelum instalasi:
Dan ini kondisi setelah instalasi:
Sehingga kapasitas harddisk yang kosong pada komputer saya bertambah sekitar 20GB lebih! Hal ini cukup aneh, karena klaim dari Apple mengatakan bahwa pertambahannya "hanya" sekitar 7GB. Sehingga sampai saat ini saya masih mengecek di mana sumber keanehan ini.
Masalah pertama yang saya temui di OS ini (untuk terbitan pertama, pasti ada cukup banyak bug) adalah mengenai koneksi internet. Tadinya komputer saya hanya mau melakukan koneksi melalui Wi-Fi. Ketika saya coba menggunakan LAN, ternyata koneksi tidak berjalan. Namun setelah saya cari di forum Apple, solusinya sudah ditemukan.
Secara umum, sampai saat ini, saya cukup puas dengan kinerja OS baru ini. Sekarang, tiap hari saya akan mendapat tatapan seperti ini:
Thank You Leopard, Welcome Snow Leopard.
Kamis, 27 Agustus 2009
Tiket itu Datang
Tadi malam, saya baru sampai ke asrama mendekati tengah malam. Jadi ceritanya setelah sholat Isya' dan Tarawih di masjid KBRI, hujan turun begitu deras. Ditunggu sampai agak malam, hujan masih saja mengguyur. Akhirnya saya memutuskan untuk menembus derasnya hujan ke asrama, dengan berjalan kaki.
Cukup melelahkan.
Namun begitu saya sampai di pos satpam asrama, ternyata ada kiriman untuk saya.
Amplop berwarna coklat itu.
Dari sampulnya, saya sudah bisa memperkirakan isinya.
Setelah dibuka, isinya memang seperti yang diduga. Sesuatu yang saya pesan belasan hari yang lalu.
Ya, MR BIG REUNI!!!
Mungkin bagi orang lain, band itu band yang biasa saja. Namun bagi saya, band itu cukup istimewa.
Pada saat saya masih duduk di bangku kelas 1 SMP, saya pertama mendengarkan lagu Mr. Big yang to be with you. Saya yang tadinya terus mendengarkan musik klasik (tentu saja karena piano), baru pertama kali mendengarkan lagu non-klasik yang menyenangkan.
Akhirnya saya terdorong untuk menjebol tabungan untuk membeli gitar Yamaha F-310 TBS yang ada sampai sekarang, untuk latihan lagu tersebut sampai bisa. Sebetulnya saya tertarik dengan gitar ini hanya karena lambang yamaha yang berbentuk seperti pohon kelapa. Namun ternyata memang suaranya juga mengagumkan (ya jelaslah.. untuk ukuran anak SMP waktu itu, harganya seperti taruhan nyawa).
Karena lagu itu jugalah, saya juga jadi senang memainkan gitar pada saat SMP.
Kemudian dari situ saya tahu lagu-lagu yang lain seperti green tinted sixties mind dan stay together, dan akhirnya ke lagu-lagu lain di mana paul gilbert memainkan gitarnya menggunakan bor merek makita (teknik yang menurut saya sangat ekstrim, sehingga tentu saja saya tidak bisa menirukannya, selain karena ketidakmampuan tentu saja).
Lalu apakah saya membeli gitar listrik karena Mr. Big? Jawabannya tidak. Saya membeli gitar listrik Cort saya karena sangat mengagumi lagu Canon Rock-nya Jerry Chang yang dimainkan oleh Funtwo ini , yang sempat melegenda di Youtube pada saat saya kuliah dulu. Namun sayangnya saya tidak bisa sukses menyelesaikan lagu ini (tingkat kesulitan SSSSS).
Singkat kata, sejak saat SMP saya menjadi penggemar Mr. Big, dan yang ikut sedih saat mereka memutuskan bubar. Namun saat saya mendengar kabar mereka akan reuni (sebetulnya rumor ini sudah berkembang cukup lama), saya jadi terus mengikuti beritanya. Puncaknya, ternyata mereka betul-betul akan reuni! Dan mengadakan tur reuni dunia yang dimulai dari Jepang (penggemar mereka di sana memang sangat banyak). Saya tidak berharap akan melihat aksi mereka. Saya paling hanya mengincar membeli DVD konser mereka nanti kalau sudah dijual secara bebas.
Ternyata saya diberitahu Mario bahwa mereka akan konser di Singapore. Setelah saya buka linknya, ternyata mereka juga akan konser di sini! Setelah berburu informasi, akhirnya saya tahu bahwa tiket dapat dibeli secara online melalui thaiticketmajor.com. Dan kegiatan saya setiap hari sejak itu adalah membuka situs itu setiap hari. Melihat apakah tiket sudah mulai dijual.
Akhirnya pada tanggal 15 Agustus 2009 jam 10, tiket dijual! Pada jam 12 saya ada ujian padahal hehehe. Sabtu-sabtu kok ujian ya. Akhirnya saya memesan tiket pada hari itu, dan langsung berangkat ujian.
Akhirnya tadi malam, tiket itu sampai di tangan juga.
Tinggal menunggu tanggal 16 Oktober!
Jumat, 21 Agustus 2009
Marhaban Ya Ramadhan
Alhamdulillah, ternyata saya masih diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan suci ini kembali.
Yang agak membedakan dengan bulan-bulan sebelumnya, insya Allah ini merupakan bulan Ramadhan pertama yang saya habiskan sebulan penuh di negeri orang (tentu saja setelah saya Akil Balig, di mana saya sudah diwajibkan untuk berpuasa).
Di manapun saya berada, saya sangat bersyukur karena diberi kesempatan untuk bertemu dengan bulan yang mulia ini.
Penentuan berakhirnya suatu bulan (dan juga mulainya suatu bulan) dalam bulan hijriyah biasanya ditentukan dengan cara hisab atau rukyat (penjelasan singkat dapat dibaca di sini). Mirip dengan metode penetapan di Indonesia, di Thailand juga ada semacam penetapan yang ditentukan melalui sidang majelis ulama yang dilaksanakan tadi malam.
Kemarin saya menghabiskan hari di Ladkrabang, kampus Sunu dan Hatta.
Sebetulnya tujuan utama hanya bermain saja. Mengapa? Karena saya sudah weekend! Agenda kuliah dan tugas yang biasanya begitu padat, jadi terasa begitu longgar. Tiba-tiba para dosen yang mengampu kuliah sejak selasa sampai jumat, membatalkan semua kuliahnya. Sepertinya di Lab memang ada pekerjaan yang sangat menyita perhatian mereka. Sehingga tidak ada kuliah sama sekali. Ho.. dan tidak ada kuliah sama dengan tidak ada tugas juga.
Sehingga kemarin saya main ke sana, dan juga sekaligus menginap di sana. Kebetulan saya juga di sana diajak makan di tepi rel kereta. Warung itu hanya buka di malam hari, sehingga praktis tadi malam merupakan kesempatan terakhir sebelum bulan Ramadhan.
Selain itu, kami juga sudah berbelanja untuk mempersiapkan jika ternyata hari ini sudah hari puasa pertama. Agenda kami tadi malam adalah: menunggu hasil sidang yang menentukan hari pertama Ramadhan. Namun ternyata sampai kami bangun pada jam 2 pagi, hasil masih belum keluar (sebetulnya kami menunggu telpon dari teman orang Thailand yang mengerti hasil tersebut). Sambil menunggu, saya dan Hatta (seperti biasa) bermain DotA.
Karena sudah mengantuk, kami tidur. Dan ternyata jam 4 telpon berdering.. Teman tersebut memberitahu bahwa hari pertama Ramadhan ditetapkan jatuh pada hari Sabtu.
Karena sudah ditetapkan hari Sabtu, hari ini saya bisa lebih mempersiapkan untuk puasa esok hari. Saya sudah membeli makanan untuk Sahur.
Selain itu tadi juga sudah bisa berdiam di masjid, dari setelah maghrib sampai sholat tarawih selesai (di Masjid Jami'ul Khoiriyah dekat sini, ternyata sholatnya 23 rakaat). Saya akan berusaha untuk membaca Al-Qur'an 1 juz tiap hari. Syukur kalau bisa lebih. Saya juga akan berusaha untuk lebih rajin sholat berjama'ah. Dan juga sholat sunah. Semoga Bulan Ramadhan ini akan menjadi lebih baik dari yang kemarin-kemarin.. Amin.
Jumat, 14 Agustus 2009
Awal dan Akhir
Gambar saya ambil tanpa izin dari Kompas. 
Saya tidak mungkin mengambil gambar seperti ini sendiri.
Mungkin walaupun ukuran gambar tersebut tidak terlalu besar, tampak cukup jelas gambar apa itu. Gambar tersebut merupakan suasana ruang sidang saat rapat paripurna DPR yang diikuti oleh pidato kenegaraan terakhir yang disampaikan oleh SBY. Apa komentar Anda setelah sekilas melihat gambar itu?
Kalau saya sendiri, terlihat begitu banyak kursi kosong.
Sebetulnya hal itu sudah menjadi hal yang klise, yang sering menjadi sebuah retorika.
"Untuk apa anda susah payah memilih anggota dewan, toh nanti di saat sidang hak kita tidak akan diperjuangkan"
"Untuk apa anda susah payah memilih anggota dewan, toh nanti mereka hanya akan tidur di sidang"
"Untuk apa anda susah payah memilih anggota dewan, toh nanti mereka tidak akan pernah hadir di sidang"
"Untuk apa anda susah payah memilih anggota dewan, toh nanti mereka akan memikirkan diri mereka sendiri"
"Untuk apa anda susah payah memilih anggota dewan, toh nanti mereka akan lupa pada janjinya"
"Anda lupa prinsip bisnis? ketika kita punya modal, sudah tentu modal tersebut harus kembali. Kalau kita menghabiskan banyak dana untuk kampanye, tentu dana itu harus kembali!"
Sebetulnya saya sendiri tidak ingin percaya akan kata-kata itu. Namun kondisi yang terjadi (minimal dilihat dari foto-foto yang beredar di media), memang tidak semua anggota dewan serius melaksanakan amanahnya.
Hal itu sangat kontras dengan kata-kata yang mereka ucapkan saat kampanye. Bahkan, di pemilu terakhir, yang berkampanye bukan hanya partai saja, namun calon legislatif itu sendiri. Masih jelas dalam ingatan saya, ketika di jalanan kota Jogja ada begitu banyak foto-foto orang yang tidak saya kenal, dan di bawahnya terdapat kata-kata seperti "Pilihlah saya" diikuti dengan janji janji manis mereka.
Lalu bagaimana nanti kalau sudah terpilih? Apakah janji itu masih diingat?
Sebetulnya hal ini sudah menjadi suatu hal yang membosankan bagi kita semua.
Semoga anggota dewan terpilih nanti tidak akan melupakan amanah yang telah diberikan oleh masyarakat Indonesia.
Jumat, 31 Juli 2009
Server di Amerika
Mungkin bukan hal yang mudah untuk melacak dan mengetahui siapa pelaku dan apa motivasi suatu praktik terorisme. Contoh Sederhana, pengeboman yang beberapa kali terjadi di Indonesia. Saya sendiri tidak bisa memutuskan atau sekedar menduga, siapa pelaku pengeboman itu, dan apa motivasinya.
Yang saya tahu, pengeboman selalu menjadi bencana. Baik bagi korban langsung dari pengeboman, maupun secara lebih luas, Indonesia sendiri.
Sebagai sebuah negara yang berdaulat dan sudah memiliki hubungan yang cukup baik dengan negara lain, tentu saja pengeboman semacam ini akan mencoreng reputasi yang sudah dimiliki selama ini. Jika tadinya Indonesia dianggap cukup aman, sekarang tentu saja jauh dari itu.
Sebagai efeknya, Negara pasti akan berusaha sekuat tenaga mencari dan mengungkap siapa pelaku peristiwa itu.
Bagaimana caranya?
Saya kira untuk kasus seperti ini, akan sangat sulit untuk menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Yang muncul di mana-mana hanyalah tuduhan-tuduhan yang belum tentu benar. Sebetulnya mencurigai masih tidak apa-apa, yang kemudian kecurigaan tersebut digunakan dasar untuk melakukan penyelidikan. Namun jika opini itu dilontarkan ke media, terlihat seolah-olah pelaku mutlak telah ditetapkan.
Yang jelas, tuduhan selalu dilontarkan ke jaringan-jaringan terorisme.
Kalau dugaan saja sudah dilontarkan ke publik, bukankah justru semakin sulit mengungkapkannya? Kalau misal saya penjahatnya, dan dugaan tersebut diarahkan ke saya. Saya tentu saja dengan mudah langsung melakukan rencana untuk melarikan diri. Dan kalau dugaan tersebut ternyata diarahkan ke orang lain? Saya akan dengan sekuat tenaga menjaga opini itu. Kalau perlu dipanas-panasi juga. Sehingga tuduhan semakin jauh dari diri saya.
Salah satu dugaan yang sedang top saat ini, pelakunya adalah, nama yang sudah tidak asing bagi kita, Noordin M. Top. Bahkan tuduhan itu juga bisa didasarkan pada sebuah blog. Hei.. sebuah blog yang ini. Isi dari blog ini ditengarai berupa penjelasan dan motivasi dari pengeboman yang kemarin.
Lalu apa tindakan kepolisian? Justru malah memberi pernyataan yang menggelikan, namun justru diungkapkan ke media massa. Lihatlah berita di kompas ini. Server blog tersebut ada di Amerika Serikat? Ya jelaslah! Blog itu menggunakan mesin gratisan blogspot (seperti saya juga hehehe..) yang merupakan anak perusahaan Google. Jadi tidak perlu menggunakan penyelidikan khusus pun, saya tahu bahwa servernya ada di Googleplex, Mountainview sana. Kalau tidak percaya, silakan cek server blog saya ini. Pasti tidak ada di Yogyakarta.
Opini seperti itu kok dibesar-besarkan.
Kemudian kepolisian juga (katanya) akan menjalin kerjasama dengan kepolisian luar negeri, untuk melacak siapa yang menjalankan blog tersebut.
Hei.. bukankah blog itu bisa dibuat siapa saja? Dan dari mana saja? Walau misal ketahuan identitas pengakses, namun tentu saja tidak sulit untuk menyamarkan semua itu.
Dan bagaimana jika akhirnya ternyata pembuat blog itu bukanlah pelakunya?
Minggu, 26 Juli 2009
Makan di saat Studi
Bagi teman-teman yang sedang studi di luar negeri, barang kali salah satu trik yang harus dipikirkan adalah mengenai makan.
Salah satu hal yang harus dipikirkan adalah: Bagaimana kita mendapatkan makanan itu. Biasanya untuk menghemat biaya atau menyesuaikan selera diri sendiri, banyak juga mahasiswa yang memasak sendiri di asrama atau apartemen. Namun tidak semua bisa melakukan hal tersebut. Ada yang asrama atau apartemennya melarang penghuninya untuk memasak (biasanya alasannya untuk mencegah kebakaran). Atau ada juga yang tidak memiliki banyak waktu untuk memasak. Biasanya untuk kasus tersebut, mahasiswa harus membeli makanan di luar.
Kemudian hal yang lain: Makanan apa saja yang tersedia di negeri tersebut. Bagi mahasiswa muslim, tentu saja harus memikirkan bagaimana cara mendapatkan makanan halal. Entah dari bahan makanannya, atau rumah makan yang menyediakan makanan halal. Bagi yang memiliki pantangan dengan alasan kesehatan pun, harus lebih jeli dalam memilih makanan.
Bagaimana dengan saya?
Di asrama kampus yang saya tinggali, memasak dalam kamar merupakan hal yang dilarang. Walau ada juga mahasiswa atau mahasiswi yang diam-diam memasak di dalam kamar. Namun biasanya kalau ketahuan (setiap bulan ada pengecekan/perbaikan AC di tiap kamar. Biasanya alat masak akan ketahuan pada saat itu), alat memasak tersebut akan disita kemudian dikembalikan setelah lulus. Namun selain itu mahasiswa atau mahasiswi juga mendapatkan surat cinta (baca: surat peringatan) dari Wakil Rektor.
Karena alasan tersebut, saya termasuk yang tidak pernah memasak, namun selalu membeli makanan di luar. Walau terkadang saya makan di asrama juga.
Sedangkan untuk makanan halal, di negeri ini bukan sesuatu yang cukup mudah didapat. Karena berbeda dengan Jepang yang bumbunya sangat minimal, di sini bumbunya mirip dengan Indonesia, Malaysia, dan India. Sehingga sering menggunakan lemak dan minyak dalam memasak. Sehingga walaupun bahan dasar yang dimasak itu Ikan, misalnya. Belum tentu aman dimakan karena bisa jadi ikan tersebut digoreng menggunakan minyak babi.
Sehingga cara paling aman adalah membeli makanan di kios yang ada lambang halalnya.
Hanya ada sedikit tempat-tempat tertentu di Bangkok yang menyediakan makanan halal. Namun Alhamdulillah, saya tidak kesulitan mencari makanan halal di sekitar kampus saya.
Di kampus saya sendiri, minimal ada 3 kios yang menyediakan makanan halal. Kios-kios tersebut berada di dekat toko buku kampus, dekat Halal Science Center (suatu hal yang baru pertama kali saya lihat. di Indonesia pun belum pernah. Justru saya melihatnya di negeri yang bermayoritas agama Budha ini), dan di dekat asrama mahasiswa sarjana.
Kemudian di belakang asrama saya, ada sebuah supermarket bernama Tesco Lotus. Di sana juga terdapat sebuah kios yang menjual makanan halal di luar supermarket. Di dalam supermarket pun, kita bisa membeli makanan-makanan halal (termasuk Indomie kesukaan saya).
Di dekat asrama juga ada sebuah Masjid. Biasanya di tempat di mana ada masjid, penduduk di sekitarnya mayoritas beragama muslim. Sehingga biasanya kita dapat mencari makanan halal juga di sana.
Di dalam mall sekalipun, kita dapat menemukan makanan halal. Biasanya di setiap mall, minimal ada satu warung makanan yang menjual makanan halal. Atau kalau misal tidak menemukan warung khusus, KFC juga bisa dijadikan salah satu alternatif untuk membeli makanan halal (saya dulu juga sempat ditunjukkan sertifikatnya).
Gambar makanan di atas merupakan makanan favorit saya. Biasanya saya beli di kios halal yang ada di dekat Halal Science Center. Karena favorit, jadi makanan itu merupakan makanan yang paling sering saya makan (hampir tiap hari). Menu itu bernama Khao Phat Thalay, mirip nasi goreng yang diberi udang dan cumi-cumi. Kemudian saya juga membeli ikan goreng yang diiris-iris sebagai tambahan lauk.
Itu menu favorit saya.
Walau terkadang mahasiswa-mahasiswa di sini juga melakukan acara kumpul atau pengajian bersama, dan di acara tersebut biasanya kami memasak sendiri makanan Indonesia. Terkadang, bagi kita, walau makanan negeri lain itu enak, namun ada kerinduan sendiri terhadap makanan negeri sendiri.
Jadi terkadang saya juga membantu memasak (amatir).
Dan selain karena makanannya, suasana makan bersama orang Indonesia juga suatu hal yang berharga di sini.
Nah yang perlu diperhatikan, biasanya mahasiswa jarang makan teratur. Bisa jadi karena jadwal riset yang begitu ketat, memang lupa makan, malas makan, atau karena ingin menghemat.
Kesehatan merupakan hal nomor 1 dibanding hal-hal di atas. Sehingga untuk anda yang masih makan kurang teratur, makanlah dengan teratur. Jangan lupa juga menyempatkan diri membeli buah-buahan, madu, atau susu untuk menjaga kondisi tubuh.
