Jumat, 2009 Juli 17

Bagaimana Perasaan Kami?

Mulai pagi tadi, media-media di Indonesia (dan mungkin juga di Dunia) mulai dipenuhi lagi oleh sebuah berita duka.

Bom meledak (lagi) di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton, Jakarta.

Seperti sebuah retorika dari negeri yang mengaku berhasil memberantas terorisme. Setelah ada sekian rentetan penembakan di Bumi Indonesia Timur, peristiwa ini kembali muncul.

Begitu banyak respon yang muncul.

Ada yang menyoroti dari sisi olahraga: Manchester United (MU) batal datang ke Indonesia. Kebetulan (atau memang ada hubungannya?) hotel tersebut yang akan diinapi para pemain MU dalam rangkaian Asia Tour 2009. Mereka akan bertanding melawan tim Indonesia All-Stars. Tentu saja para pendukung fanatik sepakbola sangat menyesalkan kejadian itu.

Ada juga yang menyoroti dari sisi politik: Pak SBY membuat pernyataan bahwa ada yang menginginkan kerusuhan pasca pemilu. Bahkan membuat pernyataan bahwa beliau menjadi incaran teroris. Menurut saya, pernyataan itu justru tidak menyelesaikan masalah. Hanya akan menambah keresahan masyarakat. Dan terkesan mencari kambing hitam.

Mayoritas pendapat berputar pada dua pokok masalah di atas.

Namun bagaimana dengan perasaan orang Indonesia yang ada di luar negeri? Apalagi mahasiswa?

Pertama kali mendengar berita tadi, pertama terpikir mungkin: berapa korbannya? Kemudian seberapa parah kerusakannya? Siapa pelakunya? Dan apa motifnya?

Semua pendapat tersebut berkecamuk dalam pikiran.

Namun biasanya, yang muncul setelah itu adalah: malu.

Malu, mengapa ini terjadi di negeri kami? Tidak ada seorangpun yang tahu siapa pelakunya, dan apa motifnya. Bisa jadi motif tersebut sudah dibawa ke alam barzah. Namun publik akan menyorot dan menyimpulkan bahwa: Indonesia tidak bisa menjaga keamanan negerinya sendiri.

Bahkan, ada korban Warga Negara Asing. Dan tempat yang sama akan diinapi para pemain MU, jika kunjungan mereka tidak dibatalkan. Betul-betul kental dengan nuansa teror terhadap negara lain.

Mahasiswa yang sedang studi di negara lain pasti akan ditanya mengenai kejadian itu. Padahal, mereka sendiri belum tentu punya jawaban. Paling hanya bisa tersenyum, menahan malu, dan merasa tidak enak hati.

Warga negara Indonesia (yang baik) yang sedang berada di luar negeri, pasti akan mati-matian menunjukkan integritasnya sebagai Bangsa Indonesia. Berusaha menjaga tingkah laku, menjaga sopan santun, menunjukkan adat yang baik, belajar dengan keras, dan segala hal yang membuat nama Indonesia akan dipandang baik oleh bangsa lain.

Namun apa yang terjadi jika ternyata ada orang lain yang justru tidak ingin menjaga citra itu?

Pernahkah kau membayangkan bagaimana perasaan kami?

selengkapnya...

Minggu, 2009 Juni 28

Indonesia Juara!

Tadi sore, saya berkesempatan untuk menonton pertandingan final ASEAN Youth Football Cup di National Stadium yang terletak tidak terlalu jauh dari asrama. Final kejuaraan ini mempertemukan Indonesia dan Thailand. Kemarin, saya juga menonton pertandingan semifinal antara Indonesia dan Malaysia, yang berakhir dengan skor 7-2.


Sungguh membanggakan, sebelum pertandingan mereka masih menyempatkan diri untuk berdoa bersama.

Yang cukup menarik dari pertandingan ini adalah pendukungnya. Mungkin karena kejuaraan ini hanya kejuaraan junior, sehingga animo penonton untuk melihat pertandingan cukup sedikit. Namun panitia memiliki inisiatif yang menarik. Panitia mengajak siswa SD dan SMP lokal untuk menonton, kemudian mereka dibagi dalam dua kubu. Mereka juga dipersenjatai dengan atribut-atribut negara yang bertanding (terutama bendera)


Seperti terlihat di gambar, yang berbaju hijau di belakang adalah para siswa. Mengagumkan! Walaupun yang bertanding adalah Indonesia melawan negara mereka sendiri, mereka tetap dengan semangat mendukung Indonesia.

Pertandingan sendiri berjalan cukup seru. Secara fisik, pemain Thailand lebih unggul. Perawakan mereka tampak telah dibentuk untuk menjadi atlet sejak kecil. Sementara tim Indonesia, hanya merupakan kumpulan pemain yang dibentuk mendadak dalam 2 minggu (dipilih dari turnamen junior lokal di Indonesia). Namun ternyata Indonesia cukup bisa mengimbangi, bahkan sangat merepotkan tuan rumah.

Alhamdulillah, skor akhir adalah 1-3 untuk kemenangan Indonesia.


Begitu sang kapten mengibarkan Sang Merah Putih ke arah penonton, langsung semua penonton berhamburan ke lapangan untuk merayakan kemenangan. Sangat mengharukan. Bendera Merah Putih berkibar di National Stadium Thailand. Walau saya belum pernah menonton film "Garuda di Dadaku", namun saya bisa melihat cita-cita itu di mata mereka.


Para pendukung Indonesia pun tidak ketinggalan untuk ikut berfoto bersama.


Begitu juga saya, yang berkesempatan untuk berfoto dengan beberapa pemain. Selamat! Semoga prestasi kalian akan berlanjut dan menjadi titik kebangkitan bagi prestasi sepak bola Indonesia!

selengkapnya...

Senin, 2009 Juni 22

Senin Sore

Tidak terasa, perkuliahan sudah memasuki pekan ke empat. Waktu berjalan begitu cepat.


Dan akhirnya saya menemukan bahwa hari Senin Sore merupakan hari yang sangat istimewa untuk saya.

Semester ini saya mengambil 9 kredit semester yang dibagi dalam 3 mata kuliah. Mungkin sekilas terlihat begitu sedikit. Dulu saya juga membayangkan, kok kalau graduate student itu selalu mengambil mata kuliah sedikit. Dulu ambil 24 SKS saja biasa.

Namun di sini, saya merasakan benar apa arti 9 semester yang saya ambil.

Dari 3 mata kuliah yang saya ambil, baru 2 mata kuliah yang sudah dimulai proses belajarnya, yaitu Electric Transient for Power System dan Computational Method for Power System Analysis. Sedangkan mata kuliah ketiga, Power System Protection, baru akan dimulai 1 Juli nanti (diajarkan oleh advisor saya, Ajarn Channarong Banmongkol.

Dari 2 kuliah tersebut, mata kuliah Electric Transient for Power System dilaksanakan pada hari Senin, Rabu, dan Jum'at masing-masing 1 jam. Kemudian mata kuliah Computational Method for Power System Analysis diajarkan pada hari Selasa pada jam 10-12 dan dilanjutkan pada jam 13-14.

Teknik Elektro Chulalongkorn University sangat terkenal akan kekuatan komputasinya. Sehingga matematika dan segenap turunannya merupakan skill wajib di sini. Sehingga tidak salah jika setiap mata kuliah sangat berkaitan erat dengan matematika.

Apalagi tugas-tugasnya.

Nah mata kuliah yang saya sebutkan pertama tadi, banyak berkaitan dengan integral dan turunan kompleks serta transformasi Laplace. Sehingga tiap kuliah, biasanya diberi tugas untuk menyelesaikan persamaan-persamaan yang ada di materi, kemudian diplotkan di diagram kartesian. Karena kuliah tersebut dilaksanakan 3 kali, maka hal tersebut cukup menyibukkan di sela pelaksanaan kuliah.

Namun ternyata itu belum apa-apa.

Mata kuliah yang kedua, Computational Method for Power System Analysis, adalah yang membuat senin sore saya terasa indah. Mata kuliah ini berkaitan dengan pemodelan matematis dari suatu sistem tenaga listrik. Banyak berkaitan dengan matriks.

Walau pelaksanaan kuliah hanya 1 kali, jangan ditanya tugasnya.

Setiap selesai kuliah, kami diminta menyelesaikan tugas yang cukup untuk membuat begadang bermalam-malam. Kami selalu diminta melakukan simulasi sebuah sistem tenaga listrik menggunakan persamaan-persamaan matriks yang rumit. Kalau tugas kuliah yang saya ceritakan sebelumnya bisa diselesaikan dalam 1 malam, untuk kuliah yang ini bermalam-malampun belum selesai.

I Love Matrices

Deadline dari tugas ini jatuh pada tiap hari Senin jam 5 sore. Sehingga hari-hari sebelumnya, apalagi waktu libur, biasanya dihabiskan dengan wajah berkerut di depan komputer dan kertas-kertas untuk memecahkan permasalahan yang diberikan.

Nah, biasanya tugas itu selesai (atau dianggap selesai) pada hari Senin sore jam 4. Kemudian saya mengumpulkan tugas itu ke Lab, dan berjalan kaki untuk pulang ke asrama.


Dan tahukah? Saat berjalan kaki pulang itu merupakan saat yang paling menyenangkan sekaligus menenangkan hati. Perasaan puas dan lega karena sudah mengumpulkan tugas membuat jalanan di kampus terasa begitu indah. Sehingga pemandangan biasa seperti di ataspun terasa sangat menyejukkan hati saat itu. Sehingga saya jalan pelan-pelan, menikmati suasana.

Walaupun itu hanya kesejukan semu. Besoknya langsung ketemu dengan kuliah itu dan tugas-tugas itu lagi. Namun jujur, mata kuliah ini merupakan mata kuliah yang sulit sekaligus menarik. Selain itu, sang dosen yang masih sangat muda, Ajarn Kulyos Audomvonseree, merupakan dosen yang hebat. Cara mengajarnya baik, sangat menguasai materi, dan selalu membuka diri terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diberikan.

Sehingga walaupun harus begadang, karena saya suka dengan kuliahnya, saya melakukannya dengan senang hati.

Senin sore memang sangat indah..

NB: Pada Senin malamnya, katanya alarm kebakaran di Asrama berbunyi keras. Tampaknya ada yang menyalakan api. Namun parahnya, saya tertidur lelap sampai tidak bangun!! Padahal yang lain sudah berkumpul di bawah. Ternyata Senin sore memang terlalu tenang.. Parah..

selengkapnya...

Selasa, 2009 Juni 09

Kuliah Lagi

Alhamdulillah,

Begitu lama saya meninggalkan halaman ini. Tampaknya kesibukan dan rutinitas selama ini di kampus sudah membuat saya sibuk dan malas untuk kembali menulis di sini. Namun tampaknya di tengah serbuan tugas (terutama komputasi!) yang membuat saya jenuh, tampaknya saya ingin kembali menulis di sini. Sekaligus berbagi pengalaman lagi.

Ya, pengalaman kuliah! Alhamdulillah mulai bulan ini, saya resmi menjadi mahasiswa lagi..

Setelah sekian lama bertapa, berusaha, dan menanti, akhirnya saya diterima untuk belajar lagi di kampus. Mulai bulan ini, saya resmi terdaftar di Chulalongkorn University, di Negara Gajah Putih, Thailand. Saya mengikuti jejak Bang Sunu dan Hatta untuk berguru di negeri ini.

Sebetulnya saya tidak menyangka akan belajar di sini, karena tadinya saya tidak lolos seleksi beasiswa AUN/SEED-Net JICA untuk bagian Teknik Elektro. Namun ternyata memang Allah menghendaki saya belajar di sini (tidak di Indonesia, di Jepang, apalagi di Kutub Utara). Saya ternyata terdaftar sebagai reserve, dan ada teman saya yang mengundurkan diri, sehingga akhirnya saya berangkat ke sini dengan berbagai persiapan yang super mepet dan menegangkan. Tampaknya tempat ini juga yang terbaik untuk rencana hidup saya ke depannya (Amin).

Begitu saya sampai di Suvarnabhumi tanggal 30 Mei 2009, saya dijemput oleh mahasiswa Teknik Sipil Chula Univ, William. Dia adalah alumni ITB. Untuk beasiswa AUN/SEED-Net JICA ini, tiap bidang sudah ditentukan Universitasnya. Chulalongkorn University diberi tanggungjawab untuk menangani bidang Teknik Elektro dan Teknik Sipil. Sehingga di Universitas ini, kebanyakan mahasiswa dari Indonesia ada di kedua jurusan tersebut.

Nah kembali ke kisah tadi, singkat cerita, saya diantar oleh William naik Taksi ke asrama milik kampus (Saya benar-benar diselamatkan oleh William, karena walau baru tinggal 6 bulan di sini, dia sudah bisa berbahasa Thailand. Sedang saya? walau pernah ke sini 5 hari, tetap: 0 besar), Suksit Nives International House. Di sini tinggal mahasiswa-mahasiwa asing yang belajar di Chula Univ.

Kesan pertama saya di sini: Tulisan dan Bahasanya betul-betul sangat asing untuk saya. Bagaimana mungkin untuk selevel ibukota sekalipun, petunjuk-petunjuk utama tetap ditulis dalam tulisan sini, tanpa terjemahan?

Ceritanya, karena saya ke sini dengan persiapan yang sangat mepet, saya bahkan tidak tahu siapa Advisor saya. Pada hari Seninnya, saat melakukan registrasi, saya baru diberitahu siapa nama Advisor saya : Dr. Channarong Banmongkol. Ceritanya lagi, pada saat pendaftaran, saya diharuskan untuk membuat proposal riset, di mana saya mengajukan PSRL (Power System Research Laboratory) sebagai tempat saya belajar. Dan mengajukan proteksi atau Power Quality sebagai bidang penelitian saya.

Setelah mendapatkan nama Advisor, saya langsung membuka situs Teknik Elektro Chula Univ, dan langsung menemukan profil beliau (Sekali lagi, situsnya pun kebanyakan tulisan keriting). Dan melihat latar belakang pendidikan.. Oh, lulusan Jepang. Beliau menyelesaikan Master dan Doktor di Nagoya University. Lalu di kolom-kolom bawahnya kok kosong? Kembali ke atas lagi dan melihat kantornya.. Ternyata di HVRL!!! (High Voltage Research Laboratory). Waduh kok dilempar ke sini saya? Seribu tanya ada di dada, sambil menahan rasa kecewa.

Besoknya, saya menemui Bapak Advisor di ruangannya. Ruangannya ada di lantai 2 gedung HVRL. Di lantai 2 gedung ini, kita harus melepas sepatu (informasi yang sangat penting). Setelah saya melepas sepatu, saya ketok ruangan pintu beliau. Dan begitu terdengar suara di dalam, langsung pintu saya buka dan masuk. Beliau langsung menyapa dalam Bahasa Thailand.

Breaking News: Ternyata wajah orang Indonesia dianggap mirip dengan sebagian orang Thailand. Sehingga pada awalnya beliau mengajak ngobrol pakai bahasa Thailand. Hal ini juga dikuatkan suatu kejadian saat saya membeli berbagai keperluan awal untuk di asrama. Di perempatan, saya diajak ngobrol oleh seorang ibu-ibu. Pikir saya, karena saya membawa bawaan begitu banyak, mungkin dia menawarkan suatu bantuan. Namun karena saya tidak mengerti, sehingga saya hanya senyum-senyum saja. Namun menurut teman saya orang Indonesia, nenek itu mengatakan : "Wah, ditinggal lari istrinya ya? Sampai harus belanja sendiri". Saya yakin ibu-ibu itu tidak berkata demikian (pede banget).

Nah kembali ke pertemuan dengan Advisor saya tadi. Setelah saya buka, dan saya memberikan isyarat bingung, beliau langsung mengerti bahwa saya bukan orang Thailand, dan langsung membuka pembicaraan menggunakan bahasa Inggris. Dan ternyata.. Beliau orangnya sangat ramah dan baik! Alhamdulillah, paling tidak mendapat Advisor yang baik.. Dan ternyata lagi, bidang beliau itu proteksi dan power quality! Ternyata di Universitas ini, bidang tersebut dipelajari di gedung HVRL.

Ternyata memang Allah-lah yang lebih tahu mana yang terbaik untuk kita..

Walau belum tahu apa yang akan menjadi bidang riset saya, namun sepertinya tidak akan terlalu jauh dari bidang pembimbing saya.

Ada lagi hikmah dipindah di HVRL:

Pertama, gedung HVRL berada tepat di depan halte bus kampus. Mungkin karena saya orangnya telatan, HVRL merupakan yang terbaik untuk saya.


Kedua, gedung PSRL berada di gedung yang cukup jauh dan berada di lantai 12. Sementara meja saya sekarang ada di lantai 2 gedung HVRL. Saya jadi tidak perlu menunggu lift setiap hari.

Ketiga, ternyata di PSRL kebanyakan isinya orang Thailand, sehingga bahasa yang sering digunakan di sana dalam percakapan sehari-hari adalah bahasa asing (ada si 1 orang Laos. Tapi orang Laos bisa dengan mudah berbicara bahasa Thailand! karena bahasa mereka mirip)

Keempat, mata kuliah yang saya incar di PSRL : Computer Methods in Power System Analysis (baca: Matematikanya anak Sistem Tenaga Listrik, penuh dengan matriks) ternyata bisa saya ambil, atas saran dari Advisor saya. Sehingga tidak perlu menjadi anggota PSRL untuk mengambil mata kuliah tersebut.

Kelima, riset di PSRL hampir seluruhnya menggunakan MATLAB. Kalau yang ada di Lab, kemungkinan memang asli. Tapi saya tidak yakin kalau yang ada di Laptop para mahasiswanya itu versi asli. Sehingga saya masih bisa menjaga idealisme saya tentang HAKI sampai saat ini.

Terakhir, HVRL lebih dekat ke kantin, Chula book store, dan mushola.

Sehingga saya sangat bersyukur dipilihkan jalan ini.

Doakan studi saya di sini, dan terima kasih mau membaca cerita saya. Insya Allah nanti saya akan berbagi lagi.

selengkapnya...

Sabtu, 2009 Februari 14

Menikah di Usia Kuliah

"Apabila seorang hamba (manusia) telah menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agama, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam separuh yang tersisa.'' (HR Tabrani)

Setelah membaca hadits tersebut, saya jadi teringat tentang satu hal yang belum saya lakukan: menikah!

Menikah? Pasti banyak orang yang ingin melaksanakannya. Termasuk saya (yang hingga saat ini masih belum menikah. hehehe..)

Yang ingin saya bicarakan di sini, adalah pilihan menikah saat kuliah. Selama beberapa tahun saya kuliah di UGM, saya melihat ada beberapa macam mahasiswa yang memilih untuk menikah saat kuliah.

Apa saja jenisnya? Saya mencoba mengambil sedikit contoh yang pernah saya lihat di sekitar saya.

Beberapa di antaranya:

1. Menikah sambil kuliah, dan hidup masih ditanggung orang tua

Biasanya yang melakukan hal ini adalah mahasiswa yang salah satu orang tuanya ada di Jogja. Atau bisa jadi, keduanya berasal dari Yogyakarta. Setelah menikah, biasanya mereka masih tinggal di rumah orang tua mereka. Sehingga untuk biaya hidup, biaya kuliah, dan biaya anak (jika kemudian punya anak), masih ditanggung orang tua mereka. Setelah salah satu ada yang lulus, dan mendapat kerja, barulah mereka hidup di tempat tinggal mereka sendiri.

Karena pilihan ini biasanya sudah dirundingkan dengan orang tua mereka, selama tidak menumpang terlalu lama, menurut saya ini pilihan yang cukup baik.

2. Menikah di usia kuliah, dan memilih untuk keluar kuliah

Biasanya yang melakukan hal ini adalah mahasiswa yang saat kuliah sudah menemukan cara untuk mencari uang sendiri. Dan karena sudah merasa bisa menghidupi diri sendiri dan keluarga nantinya, dia memilih untuk menikah. Setelah menikah, dia tidak meneruskan kuliah, dan menghidupi diri dan keluarga melalui usaha dia sendiri. Mereka memilih untuk berhenti kuliah karena menyadari bahwa waktu mereka akan banyak tersita usaha tersebut dan mengurus keluarga.

Lagipula, mereka sudah tidak memerlukan ijazah lagi untuk menghidupi diri sendiri.

Pilihan ini biasanya memerlukan perundingan yang cukup berat, terutama dengan pihak orang tua. Tentu saja, mereka datang ke UGM ini dengan amanah untuk menyelesaikan studi di kampus ini. Namun selama mereka dapat menjelaskan dengan baik dan mendapatkan restu, pilihan ini juga baik. Selama mereka mengerti konsekuensi dari pilihan mereka.

3. Menikah karena "kecelakaan"

Yang ini saya no comment saja. Semoga kita tidak pernah termasuk dalam golongan
ini. amin.

4. Menikah di usia kuliah dan berusaha mencari nafkah sambil kuliah

Biasanya yang memilih opsi ini adalah pasangan yang sama-sama merantau di sini dan memilih untuk hidup bersama di perantauan. Mereka berusaha untuk mencari nafkah sendiri sambil terus meneruskan kuliah. Ada juga yang memilih untuk cuti dulu kemudian kuliah dilanjutkan lagi saat kondisi ekonomi sudah relatif stabil.

Pilihan ini menurut saya cukup berat. Karena di satu sisi, mereka harus terus menjaga amanah untuk menyelesaikan kuliah, namun di sisi lain mereka juga harus mencari nafkah untuk menghidupi keluarga. Apalagi kalau sudah punya momongan.

Pilihan ini juga biasanya memerlukan jalan yang cukup panjang untuk mendapatkan restu dari orang tua. Apalagi kalau kondisi ekonomi keluarga yang relatif lemah. Dia pasti diharapkan untuk dapat menyelesaikan kuliah agar kondisi ekonomi keluarga dapat terangkat.

----------

Menikah di usia kuliah memang pilihan. Namun tentu saja, di setiap pilihan, kita harus dihadapkan dengan konsekuensi. Pasangan yang memilih untuk menikah di usia kuliah juga harus siap dengan konsekuensi tersebut.

Terkadang pasangan-pasangan tersebut kurang memperhitungkan kemungkinan yang terjadi setelah mereka memilih untuk menikah. Akhirnya mereka mengalami berbagai macam kesulitan, terutama kesulitan ekonomi.

Beberapa dari pasangan tersebut akhirnya harus berurusan dengan masalah akademik di kampus, dan akhirnya harus meminta belas kasihan sepertimeminta keringanan SPP, perpanjangan cuti, dan sebagainya dengan alasan: saya sudah punya keluarga. Menurut saya, hal ini sangat tidak konsisten dengan pilihan yang mereka ambil. Mereka berani memilih untuk menikah, namun tidak berani menerima konsekuensi dari pilihan tersebut.

Masih banyak mahasiswa yang lebih patut mendapat keringanan SPP, karena memang kondisi keluarganya yang kurang mampu.

Sehingga menurut saya jargon yang didengungkan seperti : "menikah di usia kuliah itu setengahnya enak, setengahnya lagi enak buanget" itu non-sense selama mereka tidak bisa menerima konsekuensi dari pilihan tersebut.

selengkapnya...

Minggu, 2009 Februari 01

Random Facts

Hmm..

Ternyata saya sudah lama sekali tidak mengunjungi blog ini. Dan juga blog-blog lain. Dan ternyata ada 2 orang yang memberikan tugas kepada saya. Oh para dosen, Mas Yayan dan Mas Irfan. Maafkan mahasiswamu yang pemalas ini. Saya baru bisa mengerjakannya hari ini. Masih boleh ngumpul nggak? Ada pengurangan nilai nggak?

Terus nilainya bisa keluar cepat? Mau untuk KRS. (halah)

Dan inilah 10 fakta yang biasa-biasa saja dari seorang Fikri:

1. Seorang yang Pemalas

Benar-benar tipikal seorang pemalas. Dan sifat "mulia" ini sudah tertanam bibitnya sejak di SD. Sewaktu SD, saat saya menjadi sekretaris kelas, saya sering kelupaan mengisi daftar absen. PR dan tugaspun jarang mengerjakan (sampai nilai kesenian di rapor dapat 5 karena tidak pernah mengumpulkan tugas)

Sebetulnya saat kelas 6, Fikri kecil sudah bertekad menghilangkan sifat pemalas itu. Karena ingin masuk SMPN 5 Yogyakarta. Yang dalam bayangan seorang Fikri kecil, sekolah itu adalah sekolah elit yang isinya anak-anak rajin semua. Setelah selesai EBTANAS dan dinyatakan masuk ke SMP tersebut, ternyata Fikri kecil merasa bahwa dengan kemalasannya itu, dia masih bisa survive. Bahkan banyak juga teman-teman yang pemalas.

Jadi? kembali ke laptop.

2. Hobi Tidur

Hobi yang "mulia" ini juga didasari dari fakta nomor 1 tadi. Di saat tidak ada pekerjaan (atau berpura-pura tidak ada pekerjaan) dan saat memiliki waktu luang (atau meluangkan diri sendiri), saya lebih suka tidur. Dan kalau sudah tidur, sangat sulit dibangunkan. Atau tidak akan bangun kecuali merasa ada hal yang sangat penting.

3. Sering terlambat

Untuk hal yang berkaitan dengan janji, saya akan berusaha keras supaya tidak terlambat. Namun di luar itu, saya sering sekali terlambat. Terutama sewaktu SMA dan kuliah.

Sewaktu SMA, saya punya kebiasaan tidur lagi setelah sholat Subuh. Lalu bangun lagi sekitar jam 06.45, padahal sekolah masuk jam 07.00. Saya mandi (tanpa sarapan), lalu berangkat ke sekolah. Di jalan kaliurang, saya berkendara dengan kecepatan biasa (sekitar 50km/jam). Tiap hari, dari belakang saya selalu ada siswa-siswa calon pembalap (yang kecepatan mengendaranya menyaingi Valentino Rossi) yang mendahului saya.

Tampaknya mereka takut terlambat.

Namun saya? santai saja.. Dan kebiasaan ini masih berlanjut sampai mahasiswa. Dapat disimpulkan juga bahwa penyebab fakta ini adalah fakta nomor 2.

4. Penggemar berat mie

Saya adalah seseorang yang memiliki hobi makan. Terutama makan mie! Entah mengapa saya jadi "kecanduan" dengan jenis makanan ini. Saya bisa saja sehari tidak makan nasi tapi makan mie terus.

Mulai dari indomie, mie jawa, bihun, soun, kwetiaw, laksa, spaghetti, fettucini, soba, soumen, udon, dan mungkin semua jenis mie yang ada di dunia ini. Setiap saya mengunjungi daerah baru, saya selalu berusaha mencari mie khas daerah tersebut.

Tapi rambut saya masih lurus kok.

5. Suka baca komik

Ini juga kebiasaan saya sejak SD. Membaca komik sambil makan cemilan. Rasanya sampai hari ini tidak ada satu hari pun terlewat tanpa membaca komik. Untuk hal ini, saya "kecanduan" cukup berat. Bahkan saya bisa memundurkan waktu tidur saya untuk membaca komik.

Hampir tiap hari saya datang ke dhika, sebuah rental komik di pogung, untuk mencari apakah ada komik baru atau tidak.

Fakta yang lain, walaupun saya memiliki koleksi lengkap One Piece dan Naruto, dan juga menyukai komik bergenre olahraga, ternyata saya paling menikmati membaca komik dengan tema memasak! Seperti Cooking Master, Born to Cook, Master Cooking Boy, dll. Barang kali ada hubungannya dengan fakta nomor 4.

6. Maniak Video Game

Saya juga penggemar berat Video Game. Hal ini juga sudah tumbuh sejak SD. Sewaktu SD saya suka main spica, nintendo, dan sega di rumah tetangga. Sewaktu SMP saya suka sekali main dingdong dan Playstation di rental.

Sewaktu SMA saya dibelikan Playstation 2, namun tetap saja saya selalu memainkannya di rumah teman (kalau di rumah sepi). Selain itu, saya mulai merambah game PC. Mungkin sebagian besar waktu SMA saya habiskan untuk bermain Winning Eleven dan Age of Empires II.

Dari mahasiswa sampai sekarang, saya masih cukup sering bermain Nintendo DS dan Warcraft (yang sampai sekarang belum datang CD yang saya beli. hiks).

7. Cukup senang dengan musik

Saya sebetulnya mengenal musik (lagi-lagi) sejak SD. Saya mengikuti les piano di Sriwijaya Musik. Bahkan saat itu, saya sering memenangi kompetisi. Namun karena fakta yang nomor 1 tadi, saya berhenti total bermain piano.

Saat SMP, karena saya terpesona dengan lagu To be With You-nya Mr. Big dan Stairway to Heaven-nya Led Zeppelin, saya akhirnya ikut kursus Gitar Klasik di Crescendo. Di SMP juga saya jadi belajar alat-alat musik ansambel. Namun sekali lagi, kembali ke fakta nomor 1. Stop.

Saat SMA, saya terpesona dengan lagi Green Tinted Sixties Mind-nya Mr. Big dan Take the Time-nya Dream Theater. Sehingga saya kursus gitar listrik di Crescendo. Saya juga kursus drum di tempat yang sama. Namun lagi-lagi, fakta nomor 1.

Saat mahasiswa, saya terpesona dengan lagu Canon Rock-nya Jerry Yan yang dimainkan funtwo. Saking terpesonanya, saya sampai membeli gitar listrik.

Namun karena saya pemalas, saya hanya memainkan alat musik saat saya ingin saja (karena tidak pernah bisa, saya hanya sampai tahap ingin).

8. Sedang cukup peduli dengan HAKI

Saat ini saya sedang cukup peduli dengan Hak Atas Kekayan Intelektual. Dan berharap akan peduli seterusnya. Saya terus mencoba untuk menggunakan barang-barang yang legal dari buku, perangkat lunak, lagu, dan hal-hal lainnya.

9. Pernah naik 8kg dalam 5 minggu, dan turun 8kg dalam 8 minggu

Pada pertengahan tahun 2006 (Juli-Agustus) Saya melakukan kerja praktik di sebuah perusahaan oil service, Schlumberger. Saya menghabiskan 3 minggu di Jakarta dan 2 minggu di Sorong, Irian Jaya. Pada saat Kerja praktik 5 minggu itulah massa badan saya membengkak sekitar 8kg. Saya sendiri juga heran apa penyebabnya. Barangkali karena saya ikut pola makan bule?

Kemudian pada pertengahan tahun 2007 (Juli-Agustus) saya melakukan KKN di desa pereng, Prambanan, Klaten. Pada 8 minggu KKN tersebut saya berhasil menurunkan massa badan saya sebanyak 8kg. Ya.. dengan usaha cukup keras. Jogging tiap pagi juga.

10. Sering dikatakan mirip A***n

Saya sendiri masih bingung, apa miripnya saya dengan penyanyi satu ini. Namun banyak orang yang mengatakan saya mirip dengannya. Apa salah saya? Bukannya karena usia saya lebih tua darinya, seharusnya dia yang dikatakan mirip dengan saya? (walau sampai sekarang saya tidak pernah merasa mirip dengannya)

Namun karena sudah sekian banyak orang yang mengatakan mirip, saya pasrah saja. Namun pada suatu seminar, saya pernah dipermalukan karena hal ini. Salah seorang pembicara tiba-tiba saja mengatakan : "Saya mengucapkan selamat kepada panitia karena berhasil mendatangkan seorang artis dari Jakarta, (kemudian menunjuk saya), A***N!!!" Tidaaaaaaak..

Itulah sedikit fakta yang terlintas di pikiran saya. Sebetulnya ada fakta-fakta lain yang mungkin lebih aneh.

selengkapnya...

Selasa, 2009 Januari 06

Ketergantungan (Software)

Mungkin di kehidupan kita sehari-hari, kita cukup sering mendengar hal-hal seperti ini:

"Eh, nanti kamu buat aja perhitungannya pake Excel"
"Udah kok, videonya udah semaleman aku render di Premiere"
"Wah, program kaya gitu si gampang banget kalo pake Visual Studio.. sini aku kerjain"
"Editan photoshopmu bagus banget. Bisa buat cari duit tuh"
"Udah pake Corel yang baru belum? Fiturnya tambah lengkap.."
"Persamaan kayak gitu si pake Matlab langsung selesai.."

Dan masih banyak lagi perbincangan yang sering menyebutkan merek atau perusahaan perangkat lunak yang cukup terkemuka.

Tanpa sadar, kehidupan kita sehari-hari menjadi sangat dekat dengan software-software tersebut. Software dapat mempermudah kehidupan kita, mengisi waktu luang kita, menyalurkan hobi kita, atau bahkan menjadi sumber penghasilan kita.

Namun tanpa sadar pula, ketergantungan kita terhadap software-software tersebut menjadi cukup besar. Terpatri di kepala kita, bahwa mengolah foto itu ya menggunakan photoshop, kalau mengetik menggunakan microsoft word, mengedit video menggunakan adobe premiere, dan seterusnya.

Padahal kita semua tahu, bahwa software-software itu tidak gratis. Para kreatornya memiliki hak atas hasil kreasinya. Dan kita juga semua tahu, bahwa tidak semua dari kita membeli hasil kreasi tersebut. Kita lebih mudah mencari jalan pintas: menggunakan produk bajakan.

Toh, hal tersebut tidak lantas membuat diri kita peduli. Kita sudah terbiasa menggunakannya, kita sudah familiar dengannya, dan kita merasa berat untuk melepaskannya.

Ada yang menggunakan alasan: sudah biasa, ini untuk penghidupan, ini tuntutan pekerjaan, dan berbagai macam variannya.

Tapi adakah yang terpikir.. masak ya mau cari makan menggunakan perangkat lunak yang nota bene: tidak diikhlaskan untuk diberikan pada kita?

Sebetulnya lingkaran pemahaman seperti itu sudah menjadi hal yang tak berujung. Dan institusi pendidikan di negara kita juga cukup bertanggungjawab akan pola pikir seperti ini. Seperti yang dialami adik saya saja: di SD sudah diajari menggunakan Microsoft Office, di SMP diajari mengolah gambar menggunakan Corel dan membuat animasi menggunakan Macromedia Flash. Di SMA mulai diajari Adobe Photoshop. Bahkan di perkuliahan pun banyak yang mengajarkan programming menggunakan merek tertentu yang berbayar softwarenya.

Padahal sekolah-sekolah tersebut belum tentu menggunakan yang legal. Dan juga tidak mengajarkan untuk menggunakan yang legal (ya iyalah, orang yang dipake di sekolahnya juga bisa jadi nggak legal..)

"Lho, Mas, itu kan untuk keperluan pendidikan"

Pendidikan macam apa? Apakah pendidikan itu mengajarkan kita harus tergantung pada software tertentu? Apalagi yang membuat kita tergantung pada sesuatu yang di dalamnya terdapat hak orang lain? Ironis sekali.

Bukan berarti saya anti pada Software-Software yang saya sebutkan tadi. Justru saya salut pada kemampuan mereka untuk membuat sesuatu yang membuat hidup kita menjadi mudah. Dan justru sebisa mungkin saya tidak akan merampas hak mereka.

Sebetulnya solusinya terdengar sederhana: Beli saja. Kalau belum mampu, gunakanlah yang open source. Tapi kita sudah terlanjur tergantung pada software yang familiar tadi. Jadi ya lebih baik gunakan yang bajakan saja..

Saya sendiri masih dalam perjuangan untuk mempertahankan idealisme ini.. Untuk terlepas dari ketergantungan terhadap perangkat lunak tertentu.

selengkapnya...